Adik Kandungku Yang Nakal

Kenalin, nama aku Arya Senjaya, dan aku punya adik kandung cewek namanya Maya Karina. Kami ini anak orang berada di Bandung, kota yang terkenal banget sama makanannya.
Aku sekarang lagi kuliah semester 5, sementara Maya masih kelas 3 SMP, bentar lagi lulus. Maya ini di sekolahnya termasuk cewek yang populer banget, soalnya cantik dan bodinya aduhai.
Aku sebagai kakaknya, kadang suka kebayang yang enggak-enggak soal adikku yang manis dan cantik ini. Bikin "junior"ku langsung tegang.
Intinya, Maya ini emang cewek cantik dan jadi kebanggaan orang tua kami. Selain itu, dia juga pinter banget bawa diri, jadi semua orang suka sama dia.
Tapi, di balik itu semua, si "putri" ini sebenarnya enggak sempurna-sempurna banget. Sifat manisnya itu kadang cuma topeng.
Cuma aku, kakaknya, yang tahu sifat aslinya dia. Orang tua kami sering banget ke luar kota buat urusan bisnis, jadi mereka selalu nitipin rumah dan Maya ke aku.
Tapi, mereka enggak tahu kalau aku tuh kesulitan banget ngadepin Maya yang nakalnya minta ampun. Di depanku, dia selalu ngelawan dan seenaknya.
Kalau aku bilang A, dia malah ngelakuin B. Pokoknya aku pusing banget ngurusin dia.
Sampai suatu hari, semuanya berubah drastis. Hari itu hari Minggu yang enggak bakal pernah aku lupain.
Waktu itu, seperti biasa, orang tua kami lagi di luar kota urusan kerjaan. Mereka baru balik minggu depan.
Kebetulan, aku sama Maya lagi libur sekolah. Sebenarnya, kami pengen ikut orang tua, tapi mereka enggak ngizinin, katanya enggak mau diganggu urusan bisnis.
Maya sih kelihatan nurut, tapi aku tahu dia kesel banget di dalam hati. Begitu orang tua pergi, aku coba hibur dia, ngajakin nonton film di laptop.
Eh, dia malah marah dan banting pintu kamar di depan mukaku. Aku ngerasa dihina banget.
Akhirnya, aku nonton film sendirian di ruang tamu. Tapi, pikiranku enggak fokus ke film, malah mikirin gimana caranya bales kelakuan Maya.
Di rumah cuma ada kami berdua. Orang tua kami enggak mau pakai pembantu, alasannya biar kami belajar tanggung jawab.
Tiba-tiba, ide nakal muncul di otakku. Aku ada niat buat nyelinap ke kamar Maya nanti malam dan fotoin dia pas lagi tidur telanjang.
Nanti fotonya buat nakut-nakutin dia biar jadi adik yang nurut.
Malemnya, jam sebelas malam. Aku ngendap-ngendap di depan pintu kamar Maya.
Aku tempelin telingaku ke pintu buat mastiin dia udah tidur apa belum. Ternyata, enggak ada suara TV atau radio dari kamarnya.
Maya ini emang biasanya langsung tidur kalau lagi ngambek. Aku pakai keahlianku sebagai anak teknik buat buka kunci pintu kamar Maya.
Aku punya alatnya, beli pas lagi jalan-jalan ke luar negeri. Di tanganku, udah siap kamera digital.
Pas aku masuk kamar Maya, lampunya masih nyala, soalnya dia takut tidur gelap-gelapan. Aku jalan pelan-pelan ke tempat tidurnya.
Malam itu, dia tidur terlentang pakai daster tipis warna biru muda. Tanganku pelan-pelan ngangkat dasternya ke atas.
Dia diem aja, enggak gerak, napasnya juga teratur. Ternyata, dia pakai CD putih motif bunga-bunga.
Pahanya mulus banget, dan aku bisa lihat bulu-bulu halus di sekitar "Miss V"nya yang ketutup CD. Aku ambil gunting dan gunting dasternya sampai bagian dadanya kelihatan.
Eh, ternyata dia enggak pakai bra. Payudaranya sih enggak gede-gede amat, mungkin cup A, tapi bentuknya bagus banget, bikin ngiler.
Aku nelen ludah ngelihat pemandangan indah itu. Dengan tangan gemeteran, aku buka CDnya.
Maya masih tidur pules.
Pemandangan indah langsung kelihatan di depan mataku. Hutan kecil yang enggak terlalu lebat terhampar jelas.
Aku sampe terpesona dan cuma bisa berdiri sambil megang kamera. Aku lupa tujuan awal aku ke sini.
Terus, pikiran setan muncul di otakku, kenapa aku cuma puas fotoin adikku? Kenapa enggak sekalian aja?
Apalagi aku masih perjaka ting-ting. Tapi, di sisi lain, aku sadar dia itu adik kandungku sendiri.
Dua pikiran, baik dan jahat, berantem di otakku. Akhirnya, karena aku enggak bisa mutusin, aku biarin "adik kecil" di selangkanganku yang mutusin.
Dan ternyata, dia udah tegang siap tempur. Manusia boleh berencana, tapi nafsu yang nentuin.
Aku taruh kamera di meja. Aku pakai kain daster yang udah robek buat ngiket tangan Maya ke kasur.
Sengaja kakinya aku biarin bebas, biar enggak ngalangin "permainan" yang mau aku lakuin. Maya masih belum sadar kalau bahaya udah ngancam dia.
Aku langsung buka baju dan celana sampai telanjang bulat. Terus, aku tundukin muka ke area kewanitaan Maya.
Ternyata, di situ wangi banget, kelihatan Maya emang jaga kebersihan. Aku mulai jilatin lipatan-lipatan dan klitorisnya.
Maya masih tidur pules, tapi lama-lama napasnya mulai enggak beraturan. Makin lama, "Miss V" Maya makin basah dan kebuka.
Aku udah enggak tahan dan langsung arahin "senjataku" ke lubang kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku megang pergelangan kaki Maya dan bukain lebar-lebar.
Ujung "senjataku" udah nempel di bibir "Miss V" Maya.
Sejenak, aku ragu buat ngelakuinnya. Tapi, aku langsung gelengin kepala dan buang jauh-jauh keraguan itu.
Dengan sekali dorongan, aku masukin "senjataku" ke dalam "Miss V" Maya yang masih sempit banget tapi basah. Tiba-tiba Maya teriak kenceng, "Aaaaggh, sakit... Kak Arya, apa yang kakak lakuin??"
Maya kebangun dan jerit ngelihat aku di atas badannya. Mukanya pucet banget, ketakutan dan nahan sakit yang luar biasa.
Matanya mulai berkaca-kaca. Pinggulnya gerak-gerak nahan sakit. Tangannya berusaha lepas dari ikatanku.
Kakinya juga coba nendang. Tapi, semua usahanya sia-sia.
Aku enggak berani natap matanya lama-lama, takut aku berubah pikiran. Aku alihin pandanganku ke selangkangannya.
Ternyata, ada darah keluar, darah perawan. Aku enggak peduliin itu semua, soalnya kenikmatan yang belum pernah aku rasain sebelumnya nyerang aku.
"Senjataku" yang ada di dalam "Miss V" Maya ngerasain panas dan otot-otot di sekitarnya kayak nyedot. Rasanya kayak disedot vacuum cleaner.
Aku langsung gerakin pinggulku dan genjot tubuh Maya. Maya nangis dan teriak, "Aduh... Sakit... Ampun, Kak... Lepasin... Panas... Sakit!!"
"Kak Arya... Jangan... Aduh... Tubuhku!!!" Aku enggak tahan denger rengekan Maya, jadi aku langsung pakai CDnya buat nyumpel mulutnya.
Yang kedengeran cuma suara erangan. Sekitar lima belas menit kemudian, Maya udah enggak berontak lagi, cuma nangis dan ngeluh kesakitan.
Darah masih keluar dari "Miss V"nya, tapi enggak sederas tadi. Aku sendiri merem, nikmatin sensasi yang luar biasa.
Aku makin cepet gerakin pinggulku, soalnya aku ngerasa mau keluar. Sesekali, tanganku nepok pantat Maya sambil bilang, "Siapa Daddy-mu?"
Dilema muncul di otakku. Haruskah aku "keluar" di dalam rahimnya atau di luar? Aku pengennya sih di dalam, tapi takut Maya hamil.
Ah, sudahlah, itu urusan nanti. Aku tahu Ibu nyimpen pil KB di mana.
Tiga menit kemudian... crot... crot... aku keluarin "cairan" hangat di dalam rahim Maya. Keringat basahin badan kami, dan darah perawan Maya basahin selangkangan kami dan sprei kasur.
Aku biarin "senjataku" di dalam "Miss V" Maya beberapa menit. Terus, abis puas, aku cabut keluar dan rebahan di samping Maya.
Aku lepasin ikatan tangan Maya dan buka sumpalan mulutnya. Aku siap-siap nerima amarahnya.
Tapi, di luar dugaan, dia enggak nyerang aku. Maya cuma diem seribu bahasa dan terus nangis.
Dia masih rebahan munggungin aku. Aku lihat tangannya nutupin dada dan "Miss V"nya.
Dia terus nangis sesenggukan. Abis semua hasratku tersalurkan, aku baru sadar aku bingung harus ngapain sekarang.
Semua kejadian ini di luar rencana. Aku takut banget ngebayangin reaksi orang tua kalau mereka sampai tahu.
Hidupku bisa hancur. Terus, mataku ngelihat kamera.
Ide cemerlang muncul di otakku. Aku ambil kamera itu dan langsung fotoin badan telanjang Maya.
Maya ngelihat aku dan nanya, "Kak Arya, apa yang kakak lakuin? Udah dong, bukannya perbuatan kakak udah cukup malam ini? Udah..."
Tangannya gerak mau ngerebut kamera dari aku. Tapi, aku udah antisipasi ini dan lebih sigap.
Soalnya tenagaku lebih gede, aku berhasil jauhin kamera dari jangkauannya. Aku cabut memory card dari kamera dan bilang, "Kalau kamu enggak mau foto ini nyebar di medsos sekolahmu, kejadian malam ini harus dirahasiain dari semua orang.
Kamu juga harus nurutin semua perintahku mulai sekarang." Muka Maya pucet, dan air mata masih netes di pipinya.
Terus, dia ngangguk lemah. Perasaan kayak menang piala dunia nyelimutin dadaku.
Aku tahu, mulai malam itu, aku udah naklukin adikku yang bandel ini. Aku nyuruh dia buat beresin kamar dan buang sprei yang ada noda darah dan potongan dasternya yang robek.
Selain itu, aku suruh dia langsung minum pil KB yang aku ambil dari lemari obat Ibu. Terakhir, aku suruh dia mandi bersihin badan, bareng aku.
Aku suruh dia pakai jari-jari lentiknya buat bersihin "senjataku" dengan lembut. Malam itu, aku ngerasa menang.
Seminggu orang tua kami pergi, aku selalu "tidur" sama Maya setiap ada kesempatan. Hari keempat, Maya udah mulai biasa dan enggak nolak lagi, meskipun dia masih kelihatan sedih dan tertekan setiap kami "begituan".
Aku juga nyuruh dia buat bersihin rumah dan masakin makanan kesukaanku. Aku juga kasih tugas baru buat mulut Maya yang mungil dengan bibirnya yang merah merekah.
Setiap malam pas aku nonton TV, aku suruh Maya buat ngasih oral seks. Dan aku selalu "keluarin" di dalam mulutnya dan suruh dia nelen.
Pas orang tua kami balik minggu depan, aku nyuruh Maya buat bersikap biasa aja nyambut mereka. Pas Ibu meluk Maya, aku lihat muka Maya kayak mau cerita kejadian seminggu ini.
Aku gerak cepet dan bilang ke Ibu, "Ibu, gimana jalan-jalannya? Coba lihatin foto-fotonya ke kita dong." Ibu senyum dan enggak curiga apa-apa.
Tapi Maya agak pucet dan ngerti maksud omonganku. Dia akhirnya enggak jadi ngomong apa-apa.
Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, aku selalu "tidur" sama Maya. Pastinya, kami pakai pengaman, kondom dan pil.
Abis dia lulus SMA, kami masih ngelakuin itu. Malah sekarang, dia udah mulai nikmatin "permainan" kami.
Kadang, dia sendiri yang minta. Pas dia lulus SMA, aku yang sekarang kerja di bank terkenal dipindahin ke Jakarta.
Aku minta orang tua buat ngizinin Maya kuliah di Jakarta. Alasanku sih biar aku bisa jagain dia biar enggak salah gaul.
Orang tua setuju, dan Maya juga pasrah. Sekarang kami berdua tinggal di Jakarta dan nikmatin kebebasan kami.
Bedanya, aku bisa lihat Maya udah berubah jadi cewek yang lebih "nakal".
Komentar
Posting Komentar